Kamis, 31 Desember 2015

Catatan Akhir Tahunku

31 Desember 2015

                Sinar matahari pagi yang menembus kaca yang tertutup gorden berwarna hijau polos pada jendela kamar membangunkanku dengan lembut. Ini pagi keduaku di rumah ini. Sebuah keluarga baru yang lengkap dan hangat. Rumah ini memiliki 3 buah kamar di dalam  rumah dan 1 buah di samping dapur di luar rumah. Seperti kebanyakan model rumah di Sainoni, tempatku mengabdi, rumah ini juga memiliki kamar mandi dan dapur yang berada terpisah dari rumah utama. Aku tidur di kamar bagian depan, sendirian. Aku sudah menawarkan kakak-kakak nona di rumah ini, tapi mereka lebih memilih untuk tidur sempit-sempitan di kamar tepat bersebelahan dengan kamar ini. Entah karena ingin membuatku nyaman atau memang kehangatan hubungan darah akan lebih terasa ketika tidur bersama. Ah, jadi rindu adik-adikku, teman berantem di rumah.
                Tulis tentang alarm yang membangunkanku pagi ini saja sudah satu paragraf, aku suka nulis lari sana sini, seperti di pasar saja, hehe. Pagi ini kegiatan kami di rumah seperti para gadis biasanya. Aku dan dua gadis anak mama di rumah ini bersih-bersih, cuci piring, masak, kemudian mandi. Dua kakak nona lainnya masih pergi kerja, mereka tidak libur akhir tahun, benar-benar pekerja yang baik ya. Sambil memasak kami pun ngobrol. Hasil obrolan adalah kami akan pergi jalan dengan bemo (kalau di Medan kami menyebutnya angkot), sejenis kendaraan umum seukuran mobil keluarga yang kursi belakangnya sudah disulap menjadi dua baris yang berhadapan. Kalau di Medan biasanya supir akan teriak ‘enam lapan, enam lapan!’ yang artinya enam dan delapan, enam orang di sisi kiri supir (kursi di barisan dinding pintu masuk penumpang dan 8 orang di sisi berhadapan). Untuk urusan jumlah penumpang ini, supir-supir di Medan biasa pegang komitmen, kalau belum penuh sesuai jumlah jangan harap kita bisa marah-marah si supir seperti yang bisa kita lakukan terhadap supir lain di tempat lain, hehe.
                Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, kami pun siap-siap berangkat pesiar (di Timor Indonesia ini, ‘pesiar’ yang selama ini ada dalam pikiranku adalah naik kapal besar di laut dan berkeliaran disana berubah arti menjadi ‘jalan-jalan’). Bapak yang sudah pulang dari Jakarta subuh tadi tidak berangkat ke kantor, maka jadilah beliau yang mengantar kami bergantian ke simpang jalan raya untuk menunggu bemo ke pasar yang kami tuju. Wacana pesiar kali ini adalah membeli sepatu nona (sebut saja) Bulan. Aku, Bulan dan kakak sepupunya (sebut saja) Bintang, naik bemo nomor 10 di simpang jalan Thamrin, Kupang. Setelah berjalan beberapa menit, bemo berhenti di pasar yang sudah ramai pengunjung. Kami membayar dua ribu per orang.
                  Pasar ini mirip dengan Pajak (read: Pasar, Medan only :D) Ikan di Medan. Buat yang belum pernah ke pasar ini jangan bayangkan Pajak Ikan itu tempat menjual ikan dan sejenisnya. Ini adalah pasar yang menjual banyak kain, kebaya, baju dan lainnya di dalam toko yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Pasar yang sedang aku kunjungi ini memiliki gambaran mirip-mirip begitu. Toko-toko berjajar di sepanjang jalan, di emperan beberapa toko juga ada pedagang kaki lima yang memasarkan dagangan mereka. Ada baju, sepatu, kain, dan sebagainya. Beda yang paling mencolok lagi dengan Pajak Ikan, pasar ini berhadapan langsung dengan laut. Jangan heran jika di Kupang, kita bisa mengendarai mobil sambil menikmati laut di sisi kiri atau kanan jalan. Benar-benar pemandangan yang menyegarkan mata. Berbelanja sambil sesekali melihat ombak saling lari berkejaran diatas air laut di seberang jalan.
                Bulan pun mendapatkan sepatu model kets yang dia mau dengan harga lima puluh ribu, hasil menawar acak bertiga, haha. Kamipun lanjut meluncur mencari benda lainnya. Kebiasaan para nona pada umumnya, tadinya tidak mau belanja tidak akan bertahan saat sampai di pasar. Bintang pun mencetus keinginan untuk beli baju. Aku sendiri sebenarnya ingin beli jam, mukena, dan power bank. Setelah jalan sedikit, kami pun masuk ke sebuah toko dengan nama ‘X Fashion’ di dekat sebuah bundaran pemberhentian bemo di pasar ini. Bulan dan Bintang memilih baju di lantai 1 dan aku naik ke lantai 2 untuk melihat mukena. Lihat model ini itu, tanya harga sana sini, aku pun memutuskan tidak membeli, disamping harganya yang kurang pantas menurutku, aku sudah punya mukena satin sebenarnya, jadi dengan kata lain aku ingin membeli untuk menambah persediaan. Tadinya aku ingin beli mukena dengan corak tenun sini jika ada, sayangnya sonde (read: tidak, bahasa Kupang dan sekitarnya) ketemu. Selain karena sangat bermanfaat, aku gemar sekali membeli mukena dengan corak yang berbeda, apalagi dengan motif tenun daerah tertentu. Tapi tetap saja, aku selalu berpikir dua kali bahkan lebih jika membeli sesuatu. Berhubung aku sudah punya satu disini, sementara manfaatkan yang ada dan masih baik keadaannya.
        Sambil lihat yang lainnya, aku menemukan satu jilbab manis motif polkadot dengan warna yang saya butuhkan. Akupun membelinya, berhubung harganya juga masuk akal, hehe. Bulan dan Bintang juga sudah selesai pilih dan bayar 4 potong baju kaos. Kami pun berjalan keluar toko menuju toko selular di sebelahnya. Sayangnya di toko itu tidak tersedia power bank. Kami pun keluar toko dan naik bemo di bundaran. Kami turun di pinggir jalan tepat di depan huruf-huruf besar dari besi yang bertuliskan ‘KETAPANG SATU BEACH’ yang berseberangan dengan sebuah bank negara. Kami masuk ke dalam dengan bayar seribu rupiah kepada seorang Ibu yang jaga pintu masuk, si Ibu juga berjualan makanan dan minuman. Kami menghabiskan waktu berfoto beberapa kali dan menikmati sejuknya angin pantai yang membuat rok dan jilbab yang ku kenakan berkibar-kibar. Kebanyakan orang yang sedang duduk-duduk di tempat persinggahan ini berpasangan, ada yang sedang duduk santai bersenda gurau, ada yang saling foto, bermesraan, juga ada yang terlihat adu argumen dan berpandang-pandangan. Sambil menikmati suasana dan pemandangan, kami memesan pop ice yang harganya lima ribu per porsi.
           
         Setelah puas menikmati tiupan angin dan suara deburan ombak, kami beranjak pulang. Kami menunggu bemo dengan nomor yang sama sewaktu berangkat tadi di depan tulisan ‘KETAPAN SATU BEACH’. Kami tiba di rumah sekitar pukul 2 WITA. Sesampainya di rumah kami makan siang lalu berganti pakaian dan lanjut menyiapkan makan untuk malam tahun baru. Menu malam ini adalah sayur bayam direbus dengan jagung, perkedel, ayam goreng, sayur capcai spesial, serta kue-kue cemilan lainnya. Alhamdulillah ya Rabb untuk semua perasaan bahagia seperti berada di rumah sendiri ini.

        Malam ini aku menunggu mereka sekeluarga selesai misa akhir tahun di gereja. Ku habiskan waktu menunggu dengan menulis ini sambil mendengarkan konser Judika dan beberapa artis lain di sebuah stasiun televisi swasta. Beberapa jam kemudian Mama, Bapak, dan putri kedua mereka yang bekerja di Bank pulang terlebih dahulu. Tiba-tiba si Mama memelukku dan menangis. Sontak aku terkejut dan menghentikan kegiatanku di atas note book putihku yang sudah buram warnanya dimakan waktu. Si Mama mengatakan dia mengingatku saat berdoa di Gereja tadi. Si Bapak dan Kakak hanya tersenyum melihat kami berpelukan. Sungguh apa yang Mama ini lakukan saat itu membuatku terharu sampai meneteskan air mata. Pelukan ini mengingatkanku pada Ibuku nan jauh di Pulau Sumatera.
Mamaku di Kupang
         Ibuku nan jauh disana, lihatlah aku dalam doamu. Putri sulungmu ini telah berada di tanah rantau dan di keluarga orang yang tidak ada hubungan darah, politik, agama, atau apapun dengan kita. Tapi lihatlah, mereka sudah memberikan tempat untukku di hati mereka. Tangisan Mama benar-benar mengalir tulus layaknya seorang Ibu yang begitu merindukan putrinya. Mungkin ini kiriman air mata darimu, Ibuku. Aku tahu kau selalu mengingatku dalam doamu. Kau selalu berpura tegar saat menelponku karena tahu aku akan mengomel jika kau menangis. Aku tak mungkin mampu menyuruhmu untuk berhenti mengkhawatirkanku, tapi Ibu, sedikit cerita ini mungkin dapat mengurangi rasa khawatirmu disana. Aku tidak berbohong. Aku mungkin tidak selalu senantiasa dalam perasaan bahagia 24 jam disini. Dan aku pasti sangat berbohong jika mengatakan aku tak merindukanmu dan semua keluarga kita. Tapi percayalah Ibu, Insyaa Allah aku baik-baik saja.

Ayah dan Ibu kandungku di Sumatera
         Ibu dan Ayahku tercinta, percayakanlah putri kalian ini pada Allah SWT, Sang Maha Memiliki kita semua. Alihkan saja tenagamu dalam menangis atau khawatir yang tak karuan untuk mendoakanku dalam sujud kalian di hadapan-Nya. Insyaa Allah, putri sulung kalian ini akan menerima cinta dan kasih yang kalian titip pada Tuhan.Dia pasti akan mencurahkan titipan kasih sayang itu kedalam hati setiap orang yang berada di dekatku di tanah rantau ini. Doakan aku untuk dapat menjaga lisan dan sikap. Doakan aku untuk kuat dan mampu menjaga diri dan kehormatan. Doakan aku untuk mampu tetap tulus dan ikhlas dalam kuasa-Nya. Ibu dan Ayahku, tersenyumlah, seperti senyum yang Mama ini berikan padaku selesai memelukku tadi. Jangan cemburu pada setiap Mama atau Bapak yang memberikan hati mereka atau pelukan kasih mereka untukku disini. Aku melihat cinta dan sayang kalian di mata mereka. Aku merindukan kalian, Ibu dan Ayah, serta semua keluarga tersayang di sana.


               
       Terimakasih keluarga baruku di Kupang-NTT yang telah menerimaku disini. Walau jauh dari orang tua dan tidak berada di kampung halaman, tidak ada alasan untukku tidak menghargai waktu dan tempat dimanaku berada saat ini. Meski orang tua dan keluarga tak kan pernah terganti, namun hati akan selalu punya ruang untuk terus berbagi, baik itu cinta, kasih, kehangatan maupun perhatian. Semoga Tuhan melindungi kita semua dimanapun kita berada. Selamat menempuh tahun 2016 bersama keluargamu, belahan jiwamu, atau siapapun yang kamu mau wahai teman yang menyempatkan waktu membaca tulisanku. See you ^0^







               

Selasa, 29 Desember 2015

Sengsara Membawa Nikmat

      
           Perjalananku dari Kefamenanu ke Kupang memberikanku pengetahuan baru tentang satu flora di tempat ini. Saat di perjalanan, ban bus kami pecah di sekitar jalan Timor Tengah Selatan. Menunggu sang konjak memperbaiki ban, akupun turun untuk sekedar melepas udara pengap di dalam bus dan meluruskan pinggang yang sudah duduk sekitar dua jam. Saat melihat berbagai tanaman dan semak belukar yang tumbuh meliar di pinggir jalan pemberhentian tersebut, aku memperhatikan sebuah tanaman yang tumbuh menjalari sebuah batang pohon sampai membentuk mirip payung. 


         Tanaman itu memiliki buah, buahnya ada yang berwarna hijau, kuning, dan jingga. Buah itu diselubungi seperti akar atau daun-daun kecil, mirip buah yang memiliki kelambu. Penumpang yang bersamaku, yang merupakan penduduk setempat memberitahuku bahwa tanaman tersebut bernama ‘Buah Sengsara’. Nama yang unik. Dari si Bapak aku juga tahu kalau tanaman itu bisa dimakan. Si Bapak menunjukkanku cara memakannya, akupun ikut merasakan buah kecil berwarna jingga tersebut. 

         Rasanya mirip seperti markisa, hanya saja buah ini lebih manis. Mungkin mereka memang berasal dari jenis yang sama. Begitulah pemikiranku. Kucicipi dua buah lagi, rasanya memang manis, nikmat sekali. Di negeri Timor ini aku menemukan banyak flora dan fauna yang belum pernah kutemui. Buah ‘Sengsara’ ini salah satunya.           
          Daerah tempatku berpijak sementara sekarang hanyalah sebagian kecil dari hamparan tanah air nan subur. Indonesia dengan segala kekayaan di dalamnya, tanah, air, udara, keanekaragaman hayati, serta sumber daya manusianya yang sebenarnya berpotensi melejit tinggi seperti salah satu pemuda negeri yang membuktikan diri di mata dunia, eyang kita BJ Habibie.



Negara yang begini kaya menjadi sumber utama kita untuk bersyukur pada sang Pencipta. Tak hanya lengah dan manja dengan keadaan yang serba ada. Sebagai generasi muda, suka tidak suka, mau tidak mau, masa depan negeri ini ada di tangan kita. Tak perlu muluk-muluk dengan seribu program atau jutaan perencanaan yang belum tentu satupun dapat diwujudkan. Kita dapat menghargai semua kekayaan alam ini dari banyak hal-hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, hemat energi (listrik, air, deterjen, dan sejenisnya), tidak bermalas-malasan, belajar dan bekerja, bermanfaat bagi lingkaran terdekat kita, diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Pengalaman menemukan tanaman ini semakin mengingatkanku akan kebesaran Tuhan dan nikmatnya yang luar biasa. Di alam bebas seperti hutan saja yang tidak pernah ada manusia bercocok tanam disana, kita dapat menemukan tanaman yang bisa menjadi sumber makanan. Bagaimana mungkin kita masih meragukan anugerah dan kuasa-Nya.

                 

29 Desember 2015

                 Udara subuh masih berhembus di luar. Langit masih berwarna gelap. Tiba-tiba pintu kos temanku, sebut saja Bunga, tempatku menginap malam ini diketok seorang wanita, tetangga sebelah, buru-buru ia berteriak, “Bunga, ada Bapak yang cari Syasa”. Bersyukur punya telinga yang tetap tersadar walau terlelap sekalipun. Refleks Bunga dan aku terbangun. Rasa kantuk masih berkeliaran di kantung mata dan kepala. Salahku sih, siapa suruh tadi malam masih berkutat dengan film di laptop dan godaan-godaan di layar hp, sampai-sampai tidurnya tengah malam. Langsung saja kami pasang jilbab sarung secepatnya. Bunga yang super pengertian menemani si Bapak ngobrol di depan kos karena beliau tidak mau ditawarkan duduk di dalam. Wajar saja, masuk kos para wanita yang terkaget bangun, pastinya isi kos masih berantakan, hihi. Akupun lari sana sini, masuk kamar mandi, masukkan baju yg kususun sembarang tadi malam ke dalam tas secepatnya. Laptop dan casnya, cas hp dan modem, beserta segala tetek bengek yang lain, kususun sebaik mungkin agar muat di tas punggungku yang tidak terlalu besar.
                Kepergiaanku ini juga tanpa persiapan barang dan perlengkapan yang matang. Dua hari yang lalu aku baru balik dari Betun-Malaka dengan Kakak teman guru tempatku menumpang sejak pertama menginjakkan kaki di Sainoni, desa tempatku mengabdi sebagai guru SM-3T (Sarjana Mengabdi di daerah Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) di perbatasan Timor Tengah Utara-Indonesia dengan Oekusi-Timor Leste. Kami pulang kemalaman, jadilah menumpang di kos Bunga. Walaupun yang punya kos sedang tidak di tempat, mereka sedang pergi liburan ke Kupang, kami tetap bisa menumpang karena kunci kamar dititip di kamarnya ketua kami disini. Guru SM-3T dari Universitas Negeri Medan berjumlah 38 orang yang ditempatkan disini, di seluruh kabupaten Timor Tengah Utara. Masing-masing dari kami mengisi liburan sekolah dengan gaya dan rejekinya masing-masing. Ada yang berkesempatan untuk libur barengan, tak sedikit juga berlibur dengan keluarga baru disini, penduduk asli yang kebanyakan merupakan suku Dawan.
                Kakak guru yang merasa tidak enakan karena si tuan kos tidak ditempat langsung permisi pulang kembali ke kampungnya, Sainoni. Akupun tinggal sendiri dengan alasan menunggu tuan kosnya pulang, aku juga sudah kangen Bunga dan teman sekamar kosnya, guru SM-3T juga, sebut saja Mawar. Malamnya, mereka pulang dari Kupang. Tadinya aku mau pulang dulu ke Sainoni sore kemarin supaya bisa mengambil baju dan perlengkapan lain yang aku butuhkan. Tapi setelah berteleponan dengan bapak Kepala Sekolah yang menawarkan liburan ala keluarga ini, aku memutuskan untuk tinggal saja di kos Bunga karena si bapak mengatakan kami harus berangkat subuh, supaya Bapak bisa langsung pulang setelah mengantarku ke Kupang.
                Dengan mata yang masih berkunang-kunang dan kepala yang berat, akupun masih mengusahakan kesadaran untuk menanggapi obrolan-obrolan dengan Bapak. Perjalanan dari Kefamenanu-TTU ke Kupang ditempuh dengan menggunakan bis besar, dengan muatan kurang lebih 20 orang, aku tak sempat menghitung jumlah kursinya dengan mata yang masih setengah terbuka, haha. Yang paling lucunya ku gantung baju tidur yang kucuci tadi malam di kos Bunga di besi yang terdapat dalam bus, berhubung tuh baju masih lembab, dan hanya itu baju tidur yang kubawa dari rumah di Sainoni. Aku benar-benar luar biasa sepertinya dalam hal cuek terhadap pandangan orang-orang. Di tas punggung yang kecil ini aku hanya memuat satu buah rok full color, jilbab orange, dan baju kaos orange pinjaman dari Mawar, satu buah baju kaos hijau dan jilbab biru milikku, pakaian dalam, dan seperangkat baju yang kupakai saat berangkat. Hanya itu! Tak lebih! Benar-benar instan aku ini! Haha.
                Berangkat akhirnya sekitar jam 6 pagi tadi dan sampai di terminal Oebobo-Kupang sekitar jam 11.30 WITA. Waktu tempuh mirip-mirip dengan perjalanan dari kampungku Tanjungbalai-Asahan ke Medan. Alhamdulillah perjalanan ini kulewati dengan perjuangan melawan rasa pusing dan mabuk pakai jurus Al fatiha serta doa lainnya, dibantu fresh care. Syukurnya aku berhasil. Sempat beberapa jam juga kurasakan tidur di atas bus. Sesampainya di terminal Bapak mengajakku untuk makan siang di rumah makan Lamongan dalam terminal. Berhubung lapar, kupaksakan diri menelan nasi dan ikan walau rasa makannya hambar. Mau bilang apa lagi, pagi tadi tak sebutirpun nasi masuk ke lambungku. Mungkin itu juga yang membuatku sakit perut sekarang, haha.
                Setelah makan, kami masih harus naik ojek ke rumah sodara si Bapak. Kami pun sampai disini dengan selamat. Alhamdulillah orang-orang di rumah ini menyambut dengan cukup hangat. Aku dan Bapak dihidangkan sprite, ada fanta juga, kue-kue natal, seperti saat kami lebaran, dan sentuhan senyum serta obrolan-obrolan ringan. Aku sudah berkenalan dengan Mama (si adik sepupu Bapak) yang punya rumah, putrinya yang nomor tiga baru masuk kuliah di FKM, si bungsu yang kelas 5 SD dengan wajah tampannya, dan anak Mama nomor lima yang memiliki nama sama persis dengan Bapak Kepala sekolahku ini. Setelah duduk sekitar 1 jam-an, Bapak permisi pulang kembali ke Kefamenanu-TTU.
                Setelah bapak pulang, mama menyarankanku untuk istirahat. Akupun ke kamar dan mengambil waktu untuk meluruskan badan. Rasanya lelah sekali. Aku tidur untuk beberapa jam. Terbangun sekitar jam 4 WITA saat hp berdering, sebuah panggilan dari seberang pulau, Ibuku menelpon dan kami pun ngobrol sebagai salah satu rutinitas harianku sejak pertama menginjakkan kaki di bumi NTT. Ibu menelponku setiap hari seperti mengonsumsi obat saja. Untungnya aku dan Ibu seperti berteman. Kami mengobrol tanpa beban. Tak perlu pura-pura saat bosan. Aku juga tak suka berkeluh kesah. Apapun akan kuceritakan dari sisi anak yang baik-baik saja, dengan kalimat tersirat ‘everything is really okay Mam’ walau sebenarnya tak selalu. Tapi itulah aku. Menurutku, mengeluh dan menceritakan keresahan hati hanya akan menambah kesakitan dan menghawatirkan orang tua. Lebih baik aku katakan saja berbagai hal yang menyenangkan pada mereka, selain untuk menenangkan mereka, itu juga menjadi doa buatku yang jauh dari keluarga. Insyaa Allah.
Sore menjelang malam tadi Bapak, suami si Mama, pulang. Semua keluarga telah berkumpul. Akupun sudah mengenal seluruh anggota keluarga rumah ini, Bapak dan Mama dengan 6 anak, termasuk tante (disini panggilnya tanta) dan om (sepupu si Mama) disamping rumah dan kedua putra mereka. Dari tadi ini aku masih di rumah saja, belum ada membawa kaki kemana-mana di kota ini. Tadinya si Mama menawarkan malam ini ke luar untuk jalan-jalan. Tapi sepertinya melihat jam di laptopku yang menunjukkan pukul 9.25 WIB yang artinya ini 10.25 WITA disini, maka pastinya sudah tidak mungkin lagi kami akan keluar.
Selesai mandi tadi Mama masih pergi latihan koor dan Bapak masih ada urusan jemput surat untuk berangkat ke Jakarta besok subuh. Sebagai tamu dan seorang anak yang orang tuanya juga bekerja, lucu sekali jika aku tak mengerti. Diterima dengan hangat, makan bersama, mengobrol dan tertawa, alhamdulillah hari ini aku sudah merasakan berada di keluargaku yang jauh disana. Walau tidak sama persis dengan rumah yang sebenarnya, setidaknya isi rumah ini menyamai anggota keluargaku di kampung halaman. Orang tua yang lengkap dengan tiga orang putri dan tiga orang putra. Benar-benar jumlah yang sama.

Ibu, Ayah, dan adik-adikku di rumah, selamat liburan. Salam untuk rumah kita yang sederhana. Aku merindukan kalian. Walau sebenarnya ketika bersama kita lebih sering berantem dengan urusan dan kepentingan kita masing-masing, tetap saja kita keluarga. Bagaimanapun keluarga, kehangatan dan saling memaafkan akan terus mengalir bak hubungan darah yang mengikat kita. Home sweet home. Peluk rindu dari anak sulung kalian di Timor Indonesia.

Alhamdulillah. Semoga setiap hari kita lebih baik dari kemarin. Amin.
Selamat istirahat semua. Good night and sleep tight.

Minggu, 07 Desember 2014

di 2014, 7 desemberku...

Hari ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, di depan televisi sambil menyetrika pakaian, maklumlah aku berada dalam keluarga yang jumlahnya cukup besar, sehingga jumlah pakaian yang ku setrika juga lumayan membuat lelah :) Sesekali aku beristirahat meluruskan pinggang sambil bermain bbm. Dalam beberapa waktu lamunanku hari ini, aku teringat kembali kenangan yang telah aku rajut di negeri orang. Beberapa waktu yang lalu aku mengambil liburan ke luar pulau untuk melakukan beberapa urusan penting. Kali ini aku ingin bercerita tentang penggalan kisahku dalam perjalanan tersebut.
Dalam perjalanan tersebut aku juga menyempatkan diri mengunjungi salah seorang temanku di S1 dulu yang sedang mengambil kuliah S2 di kota Y. Kota ini berjarak tempuh hampir 1 malaman dari tempatku tinggal menghabiskan liburan tadi, sebut saja kota X. Waktu itu, aku pun berangkat mengendarai bus dari kota X menuju kota Y pada pukul 3 sore. Di dalam bus, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa salah satu universitas ternama di ibukota. Sebut saja nama pemuda ini Laut, karena sebenarnya aku juga tidak mengetahui namanya, meskipun kami terus mengobrol dan bercanda tawa sepanjang perjalanan, namun tak satupun dari kami mengulurkan tangan mengajak berkenalan, aneh bukan? :D
Sepanjang jalan aku banyak mengobrol dengannya. Dia juga banyak menceritakan pengalaman dan potongan kisah hidupnya, perjuangan skripsinya, dan sudut pandang dia yang benar-benar berbeda dariku. Dia seseorang yang sangat realistis, tidak terlalu percaya hal-hal yang dilebih-lebihkan seperti mimpi yang terlalu besar, serta pikiran yang selalu positif, negatif juga baik untuk berhati-hati, itu pelajaran penting yang aku peroleh dari mengobrol dengannya. Pengetahuannya tentang hal-hal yang berbau Korea, berhubung dia juga pernah berkunjung ke negara tersebut. Pengetahuannya tentang budaya Jepang juga memperkaya wawasanku, terutama tentang etos kerja, karena dia merupakan mahasiswa sastra Jepang, dan sedang berjuang untuk meja hijau. Jika teringat tentangnya, aku bertanya-tanya bagaimana hasil sidangnya kemarin, karena ketika kami berjumpa kemarin, dia sedang pulang menuju rumah bertemu mamanya tercinta untuk minta didoakan di sidangnya dalam waktu dekat. Laut, semoga aku bisa bertemu denganmu lagi, suatu hari nanti, dan semoga aku masih mengingat wajah dan mimikmu itu, kuharap kamu juga :)
Aku turun di pemberhentian bus terakhir, yaitu di terminal pusat bus di kota Y. Teman yang akan kukunjungi sudah menjemputku dan menungguku. Ini kali kedua dia menjemput, sebenarnya dia dan salah seorang teman kuliahnya sudah datang ke terminal pada pagi hari 3 jam sebelum aku sampai, namun dikarenakan jalanan yang begitu macet, maka mereka harus balik ke kos untuk istirahat, dan akhirnya sekarang dia menjemputku sendirian dengan meminjam sepeda motor temannya. Aku tiba di kota Y sekitar pukul 9 pagi. Sebelum keluar terminal, kami berdua pun duduk-duduk di ruang tunggu sebentar sambil melepas rindu antara dua orang sahabat yang sudah hampir 1 tahun tidak bertemu karena disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam di terminal untuk berfoto dan saling bertukar informasi tentang keadaan masing-masing beberapa bulan terakhir sambil mengingat-ingat beberapa teman dekat dan kenangan bersama di masa kuliah. Waktu itu aku benar-benar tak menyangka bisa sampai ke tempatnya. Itu pertama kalinya aku melakukan perjalanan sejauh itu menaiki bus sendirian. Ternyata ketika kita yakin, menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa, dan menghindari diri dari memancing tindakan kriminal, insyaAllah kita akan selamat, meskipun kita perempuan dan melakukan perjalanan sendirian. Sedikit tips dari saya untuk kamu yang meluangkan waktu membaca tulisanku, hindarilah memakai perhiasan, pakaian seksi atau mencolok, sepatu tinggi atau high heels, dan barang bawaan berlebihan ketika bepergian sendirian. :)
Selesai ngobrol ngalur ngidul, aku dan temanku, sebut saja namanya Danau, keluar terminal dan berkeliling kota Y sekitar tempat kos dan kampusnya. Lalu kami pergi makan siang, sholat Dzuhur di mesjid kampus, mesjidnya bernuansa hijau, aku benar-benar suka dengan desainnya, tersedia tempat selonjoran, membaca, dan berdiskusi. Setelahnya aku dan Danau lanjut perjalanan menuju keraton dan berwisata sambil berfoto ria disana. Danau adalah salah satu sahabatku di kuliah S1 dulu. Kami berteman sejak tahun pertama kuliah. Sahabat-sahabat terdekatku waktu itu adalah Danau dan 2 pria lainnya. Saat ini masing-masing dari kami sedang sibuk dengan target hidupnya masing-masing. Kesamaan kami berempat adalah kami sama-sama orang yang penuh ambisi, semangat juang, dan rela hidup susah demi impian. Aku selalu berdoa ketiga teman priaku yang luar biasa ini akan mendapatkan impian mereka, begitu pula aku. Semoga 5 atau 10 tahun kedepan kami bertemu di puncak sukses kami masing-masing. Sayangnya, kali ini hanya aku dan Danau yang bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama di kota indah ini, kota yang masih kental dengan budayanya. Aku bersyukur bisa berad disana saat itu, dan bisa mengenal beberapa teman Danau, bergaul dan ikut belajar dengan mereka, meskipun hanya sempat 2 hari menghadiri kuliah S2 mereka, hatiku sangat gembira dan bersyukur pada Allah.
Teman-teman Danau adalah orang-orang yang sangat baik dan ramah. Mereka melibatkanku dalam kegiatan mereka. Mereka memberikanku tumpangan tidur dan peduli padaku. Aku bahagia bisa mengenal mereka. Hal yang paling membahagiakan adalah berjalan bersama mereka mengunjungi salah satu kota tujuan wisata di Indonesia yang paling ingin aku kunjungi, meskipun hanya 1 hari. Kegiatan yang paling aku suka adalah saat sholat berjamaah bersama mereka, bahkan disela-sela waktu kuliah. Dua hari bisa menghadiri kuliah mereka merupakan kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Disana aku dapat merasakan hal yang sangat aku inginkan, kembali ke bangku kuliah, mendengarkan dosen, belajar bersama, tertawa gembira, menghadapi masalah, perbedaan, dan tugas, walau hanya 2 hari, kenangan itu akan selalu terpatri di hati. Senyum para gadis cantik nan anggun di dalam kelas Danau membuat hatiku lega, aku akhirnya bisa menghilangkan rasa takutku akan pandangan sinis nan menusuk dan tajam. Terimakasih Allah, atas karunia besar yang aku peroleh saat itu.
Ada hal lain yang juga membuatku begitu bahagia saat itu. Kebersamaanku selama 7 hari bersama Danau dan teman-temannya di kota itu meninggalkan getaran indah yang sampai saat ini belum hilang. Aku jatuh hati pada salah seorang teman Danau. Aku jatuh hati padanya sejak Danau memperkenalkan namanya padaku, bahkan sejak saat aku belum bertemu dengannya, hatiku terasa sesak dan bergetar. Aku tak dapat dengan mudah mengatakan aku jatuh cinta padanya. Hanya saja, hingga hari ini aku masih belum lupa dengan wajah dan senyumnya yang khas, tanpa perlu melihat fotonya. Aku tahu belum tentu rasa ini berbalas. Hanya saja, aku tak ingin memaksakan hatiku untuk membunuh getar dan rasa indah ini. Biarkan sajalah aku menikmatinya dulu. Meski aku tahu rasa sakit menantiku, tapi biarlah, selama aku tidak membiarkan rasa ini berlebihan, insyaAllah aku tidak akan mabuk.
Kamu pernah seperti aku saat ini? Kadang tersenyum ga jelas, kadang murung tiba-tiba, kadang menepuk bahu sendiri untuk membangunkan diri, seolah-olah aku takut terjebak dalam alam hayal. Apapun itu aku telah pernah membawa namanya dalam doa dan sujudku. Semoga Allah memberikan jalan terbaik bagiku bertemu jodohku. Semoga Allah memudahkan jalan jodohku menemuiku. Semoga masing-masing dari kami terus meningkatkan kualitas diri dan menjaga hati. Dan begitu juga kamu, kamu yang membaca tulisanku ini, apapun inginmu dalam hati saat ini, semoga Allah mengijabah doa dan inginmu.
 InsyaAllah aku akan bercerita lagi esok hari, penggalan cerita ini masih belum lengkap, namun mataku telah benar-benar terasa berat, jam telah menunjukkan pukul 12 dini hari. Besok aku harus masuk kerja pagi dan harus tiba di kantor sebelum pukul 7.30. Terimakasih teman telah membaca sejauh ini. Semoga Allah melimpahkan rejeki dan karunia yang berkah bagimu dan keluarga. Salam senyum yang hangat dariku. Have a great day, see you... :)

Jumat, 05 Desember 2014

di 2014, 6 desemberku...



Ada banyak hal yang tak bisa diduga dalam dunia kerja, seperti ceritaku hari ini. Ini hari Sabtu dan seharusnya aku tidak berada disini, di kantorku, perusahaan X, tepat pukul 8 pagi dengan arahan atasan di hari sebelumnya bahwa hari ini kami harus masuk untuk mengejar target penjualan cabang. Kami yang aku maksud adalah para karyawan yang bekerja di bagian pemasaran. Dan disitulah aku sekarang, jam menunjukkan pukul 08.09 WIB, aku masih satu-satunya pegawai pemasaran yang hadir, ditemani beberapa orang tukang yang sedang membongkar bagian teller untuk direnovasi. Maklum saja, aku adalah pegawai baru, baru masuk bulan ke-4 bekerja di perusahaan ini. Jadi, tentu saja aku masih belum mengerti jam kerja hari Sabtu itu sebenarnya mulai dan selesai pada pukul berapa. Ah sudahlah, yang jelas aku sudah hadir disini dan mengisi kebosananku dengan membuat tulisan ini. Aku ingin berbagi isi pikiranku padamu, orang yang sedang membaca tulisanku.
Pagi ini, aku sempat menangis sebentar. Aku kecewa dengan adikku yang menentang ibuku. Setelah sarapan, terjadi insiden kecil, kaki ibuku terkena ujung setrikaan, dan beliau menegur adikku untuk lebih berhati-hati menarik tasnya, berhubung saat itu setrikaan berada dekat dengan tas sekolahnya. Maklum saja, rumah kami bukanlah istana yang memiliki ruang-ruang khusus sehingga segala kegiatan kadang kala bercampur aduk, seperti menyetrika di lantai tanpa meja khusus setrikaan. Kami hanya memiliki rumah sederhana, dan itupun rumah dinas yang diperoleh karena ibuku seorang guru PNS. Tapi adikku ini tidak terima ditegur ibuku hingga dia menentang dan tidak mau mengantar ibuku ke sekolah dengan sepeda motorku, lalu setelahnya aku dan dia berangkat bersama karena sekolahnya dan kantorku berdekatan.
 Kegiatan rutin kami pagi ini seharusnya berjalan lancar, namun karena aku begitu jengkel dengannya kutawarkan saja pada Ibu agar aku yang mengantar dan biarkan dia naik becak ke sekolah. Yang terjadi malah diluar dugaanku, ibu memberinya uang untuk naik becak dan beliau juga tidak ingin aku antarkan, akhirnya masing-masing dari mereka pergi sendirir. “Biarkan saja uang ini habis” ucap ibuku singkat lalu pergi. Aku tahu uang yang dimaksud itu adalah uang pecahan 2 ribuan dari dompet kecil itu. Uang itu adalah tabungan murid ibuku, miris sekali rasanya bukan. Seorang guru, pegawai negeri, namun masih harus memakai uang tabungan murid untuk kebutuhan sehari-hari.
Jam telah menunjukkan pukul 08.53,  dan tak satupun pegawai kantor selain aku yang hadir. Dan akhirnya mereka datang, 1 orang pegawai dan atasan kami, pada pukul 9.30 WIB. Semuanya ternyata akibat handpone ku yang tidak bisa nyala dari tadi malam, ternyata paginya si bos sudah bbm ke aku, dan mereka telah sepakat hadir di kantor jam 9-an. Aku bekerja dulu ya, mungkin kamu juga bisa melanjutkan aktifitasmu. Setelah nyantai nanti aku akan menulis lagi untukmu, yang mau meluangkan waktu membaca tulisanku. Salam senyum yang hangat dariku. Semoga hari kita menyenangkan, sampai jumpa :)