Kamis, 31 Desember 2015

Catatan Akhir Tahunku

31 Desember 2015

                Sinar matahari pagi yang menembus kaca yang tertutup gorden berwarna hijau polos pada jendela kamar membangunkanku dengan lembut. Ini pagi keduaku di rumah ini. Sebuah keluarga baru yang lengkap dan hangat. Rumah ini memiliki 3 buah kamar di dalam  rumah dan 1 buah di samping dapur di luar rumah. Seperti kebanyakan model rumah di Sainoni, tempatku mengabdi, rumah ini juga memiliki kamar mandi dan dapur yang berada terpisah dari rumah utama. Aku tidur di kamar bagian depan, sendirian. Aku sudah menawarkan kakak-kakak nona di rumah ini, tapi mereka lebih memilih untuk tidur sempit-sempitan di kamar tepat bersebelahan dengan kamar ini. Entah karena ingin membuatku nyaman atau memang kehangatan hubungan darah akan lebih terasa ketika tidur bersama. Ah, jadi rindu adik-adikku, teman berantem di rumah.
                Tulis tentang alarm yang membangunkanku pagi ini saja sudah satu paragraf, aku suka nulis lari sana sini, seperti di pasar saja, hehe. Pagi ini kegiatan kami di rumah seperti para gadis biasanya. Aku dan dua gadis anak mama di rumah ini bersih-bersih, cuci piring, masak, kemudian mandi. Dua kakak nona lainnya masih pergi kerja, mereka tidak libur akhir tahun, benar-benar pekerja yang baik ya. Sambil memasak kami pun ngobrol. Hasil obrolan adalah kami akan pergi jalan dengan bemo (kalau di Medan kami menyebutnya angkot), sejenis kendaraan umum seukuran mobil keluarga yang kursi belakangnya sudah disulap menjadi dua baris yang berhadapan. Kalau di Medan biasanya supir akan teriak ‘enam lapan, enam lapan!’ yang artinya enam dan delapan, enam orang di sisi kiri supir (kursi di barisan dinding pintu masuk penumpang dan 8 orang di sisi berhadapan). Untuk urusan jumlah penumpang ini, supir-supir di Medan biasa pegang komitmen, kalau belum penuh sesuai jumlah jangan harap kita bisa marah-marah si supir seperti yang bisa kita lakukan terhadap supir lain di tempat lain, hehe.
                Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, kami pun siap-siap berangkat pesiar (di Timor Indonesia ini, ‘pesiar’ yang selama ini ada dalam pikiranku adalah naik kapal besar di laut dan berkeliaran disana berubah arti menjadi ‘jalan-jalan’). Bapak yang sudah pulang dari Jakarta subuh tadi tidak berangkat ke kantor, maka jadilah beliau yang mengantar kami bergantian ke simpang jalan raya untuk menunggu bemo ke pasar yang kami tuju. Wacana pesiar kali ini adalah membeli sepatu nona (sebut saja) Bulan. Aku, Bulan dan kakak sepupunya (sebut saja) Bintang, naik bemo nomor 10 di simpang jalan Thamrin, Kupang. Setelah berjalan beberapa menit, bemo berhenti di pasar yang sudah ramai pengunjung. Kami membayar dua ribu per orang.
                  Pasar ini mirip dengan Pajak (read: Pasar, Medan only :D) Ikan di Medan. Buat yang belum pernah ke pasar ini jangan bayangkan Pajak Ikan itu tempat menjual ikan dan sejenisnya. Ini adalah pasar yang menjual banyak kain, kebaya, baju dan lainnya di dalam toko yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Pasar yang sedang aku kunjungi ini memiliki gambaran mirip-mirip begitu. Toko-toko berjajar di sepanjang jalan, di emperan beberapa toko juga ada pedagang kaki lima yang memasarkan dagangan mereka. Ada baju, sepatu, kain, dan sebagainya. Beda yang paling mencolok lagi dengan Pajak Ikan, pasar ini berhadapan langsung dengan laut. Jangan heran jika di Kupang, kita bisa mengendarai mobil sambil menikmati laut di sisi kiri atau kanan jalan. Benar-benar pemandangan yang menyegarkan mata. Berbelanja sambil sesekali melihat ombak saling lari berkejaran diatas air laut di seberang jalan.
                Bulan pun mendapatkan sepatu model kets yang dia mau dengan harga lima puluh ribu, hasil menawar acak bertiga, haha. Kamipun lanjut meluncur mencari benda lainnya. Kebiasaan para nona pada umumnya, tadinya tidak mau belanja tidak akan bertahan saat sampai di pasar. Bintang pun mencetus keinginan untuk beli baju. Aku sendiri sebenarnya ingin beli jam, mukena, dan power bank. Setelah jalan sedikit, kami pun masuk ke sebuah toko dengan nama ‘X Fashion’ di dekat sebuah bundaran pemberhentian bemo di pasar ini. Bulan dan Bintang memilih baju di lantai 1 dan aku naik ke lantai 2 untuk melihat mukena. Lihat model ini itu, tanya harga sana sini, aku pun memutuskan tidak membeli, disamping harganya yang kurang pantas menurutku, aku sudah punya mukena satin sebenarnya, jadi dengan kata lain aku ingin membeli untuk menambah persediaan. Tadinya aku ingin beli mukena dengan corak tenun sini jika ada, sayangnya sonde (read: tidak, bahasa Kupang dan sekitarnya) ketemu. Selain karena sangat bermanfaat, aku gemar sekali membeli mukena dengan corak yang berbeda, apalagi dengan motif tenun daerah tertentu. Tapi tetap saja, aku selalu berpikir dua kali bahkan lebih jika membeli sesuatu. Berhubung aku sudah punya satu disini, sementara manfaatkan yang ada dan masih baik keadaannya.
        Sambil lihat yang lainnya, aku menemukan satu jilbab manis motif polkadot dengan warna yang saya butuhkan. Akupun membelinya, berhubung harganya juga masuk akal, hehe. Bulan dan Bintang juga sudah selesai pilih dan bayar 4 potong baju kaos. Kami pun berjalan keluar toko menuju toko selular di sebelahnya. Sayangnya di toko itu tidak tersedia power bank. Kami pun keluar toko dan naik bemo di bundaran. Kami turun di pinggir jalan tepat di depan huruf-huruf besar dari besi yang bertuliskan ‘KETAPANG SATU BEACH’ yang berseberangan dengan sebuah bank negara. Kami masuk ke dalam dengan bayar seribu rupiah kepada seorang Ibu yang jaga pintu masuk, si Ibu juga berjualan makanan dan minuman. Kami menghabiskan waktu berfoto beberapa kali dan menikmati sejuknya angin pantai yang membuat rok dan jilbab yang ku kenakan berkibar-kibar. Kebanyakan orang yang sedang duduk-duduk di tempat persinggahan ini berpasangan, ada yang sedang duduk santai bersenda gurau, ada yang saling foto, bermesraan, juga ada yang terlihat adu argumen dan berpandang-pandangan. Sambil menikmati suasana dan pemandangan, kami memesan pop ice yang harganya lima ribu per porsi.
           
         Setelah puas menikmati tiupan angin dan suara deburan ombak, kami beranjak pulang. Kami menunggu bemo dengan nomor yang sama sewaktu berangkat tadi di depan tulisan ‘KETAPAN SATU BEACH’. Kami tiba di rumah sekitar pukul 2 WITA. Sesampainya di rumah kami makan siang lalu berganti pakaian dan lanjut menyiapkan makan untuk malam tahun baru. Menu malam ini adalah sayur bayam direbus dengan jagung, perkedel, ayam goreng, sayur capcai spesial, serta kue-kue cemilan lainnya. Alhamdulillah ya Rabb untuk semua perasaan bahagia seperti berada di rumah sendiri ini.

        Malam ini aku menunggu mereka sekeluarga selesai misa akhir tahun di gereja. Ku habiskan waktu menunggu dengan menulis ini sambil mendengarkan konser Judika dan beberapa artis lain di sebuah stasiun televisi swasta. Beberapa jam kemudian Mama, Bapak, dan putri kedua mereka yang bekerja di Bank pulang terlebih dahulu. Tiba-tiba si Mama memelukku dan menangis. Sontak aku terkejut dan menghentikan kegiatanku di atas note book putihku yang sudah buram warnanya dimakan waktu. Si Mama mengatakan dia mengingatku saat berdoa di Gereja tadi. Si Bapak dan Kakak hanya tersenyum melihat kami berpelukan. Sungguh apa yang Mama ini lakukan saat itu membuatku terharu sampai meneteskan air mata. Pelukan ini mengingatkanku pada Ibuku nan jauh di Pulau Sumatera.
Mamaku di Kupang
         Ibuku nan jauh disana, lihatlah aku dalam doamu. Putri sulungmu ini telah berada di tanah rantau dan di keluarga orang yang tidak ada hubungan darah, politik, agama, atau apapun dengan kita. Tapi lihatlah, mereka sudah memberikan tempat untukku di hati mereka. Tangisan Mama benar-benar mengalir tulus layaknya seorang Ibu yang begitu merindukan putrinya. Mungkin ini kiriman air mata darimu, Ibuku. Aku tahu kau selalu mengingatku dalam doamu. Kau selalu berpura tegar saat menelponku karena tahu aku akan mengomel jika kau menangis. Aku tak mungkin mampu menyuruhmu untuk berhenti mengkhawatirkanku, tapi Ibu, sedikit cerita ini mungkin dapat mengurangi rasa khawatirmu disana. Aku tidak berbohong. Aku mungkin tidak selalu senantiasa dalam perasaan bahagia 24 jam disini. Dan aku pasti sangat berbohong jika mengatakan aku tak merindukanmu dan semua keluarga kita. Tapi percayalah Ibu, Insyaa Allah aku baik-baik saja.

Ayah dan Ibu kandungku di Sumatera
         Ibu dan Ayahku tercinta, percayakanlah putri kalian ini pada Allah SWT, Sang Maha Memiliki kita semua. Alihkan saja tenagamu dalam menangis atau khawatir yang tak karuan untuk mendoakanku dalam sujud kalian di hadapan-Nya. Insyaa Allah, putri sulung kalian ini akan menerima cinta dan kasih yang kalian titip pada Tuhan.Dia pasti akan mencurahkan titipan kasih sayang itu kedalam hati setiap orang yang berada di dekatku di tanah rantau ini. Doakan aku untuk dapat menjaga lisan dan sikap. Doakan aku untuk kuat dan mampu menjaga diri dan kehormatan. Doakan aku untuk mampu tetap tulus dan ikhlas dalam kuasa-Nya. Ibu dan Ayahku, tersenyumlah, seperti senyum yang Mama ini berikan padaku selesai memelukku tadi. Jangan cemburu pada setiap Mama atau Bapak yang memberikan hati mereka atau pelukan kasih mereka untukku disini. Aku melihat cinta dan sayang kalian di mata mereka. Aku merindukan kalian, Ibu dan Ayah, serta semua keluarga tersayang di sana.


               
       Terimakasih keluarga baruku di Kupang-NTT yang telah menerimaku disini. Walau jauh dari orang tua dan tidak berada di kampung halaman, tidak ada alasan untukku tidak menghargai waktu dan tempat dimanaku berada saat ini. Meski orang tua dan keluarga tak kan pernah terganti, namun hati akan selalu punya ruang untuk terus berbagi, baik itu cinta, kasih, kehangatan maupun perhatian. Semoga Tuhan melindungi kita semua dimanapun kita berada. Selamat menempuh tahun 2016 bersama keluargamu, belahan jiwamu, atau siapapun yang kamu mau wahai teman yang menyempatkan waktu membaca tulisanku. See you ^0^







               

Selasa, 29 Desember 2015

Sengsara Membawa Nikmat

      
           Perjalananku dari Kefamenanu ke Kupang memberikanku pengetahuan baru tentang satu flora di tempat ini. Saat di perjalanan, ban bus kami pecah di sekitar jalan Timor Tengah Selatan. Menunggu sang konjak memperbaiki ban, akupun turun untuk sekedar melepas udara pengap di dalam bus dan meluruskan pinggang yang sudah duduk sekitar dua jam. Saat melihat berbagai tanaman dan semak belukar yang tumbuh meliar di pinggir jalan pemberhentian tersebut, aku memperhatikan sebuah tanaman yang tumbuh menjalari sebuah batang pohon sampai membentuk mirip payung. 


         Tanaman itu memiliki buah, buahnya ada yang berwarna hijau, kuning, dan jingga. Buah itu diselubungi seperti akar atau daun-daun kecil, mirip buah yang memiliki kelambu. Penumpang yang bersamaku, yang merupakan penduduk setempat memberitahuku bahwa tanaman tersebut bernama ‘Buah Sengsara’. Nama yang unik. Dari si Bapak aku juga tahu kalau tanaman itu bisa dimakan. Si Bapak menunjukkanku cara memakannya, akupun ikut merasakan buah kecil berwarna jingga tersebut. 

         Rasanya mirip seperti markisa, hanya saja buah ini lebih manis. Mungkin mereka memang berasal dari jenis yang sama. Begitulah pemikiranku. Kucicipi dua buah lagi, rasanya memang manis, nikmat sekali. Di negeri Timor ini aku menemukan banyak flora dan fauna yang belum pernah kutemui. Buah ‘Sengsara’ ini salah satunya.           
          Daerah tempatku berpijak sementara sekarang hanyalah sebagian kecil dari hamparan tanah air nan subur. Indonesia dengan segala kekayaan di dalamnya, tanah, air, udara, keanekaragaman hayati, serta sumber daya manusianya yang sebenarnya berpotensi melejit tinggi seperti salah satu pemuda negeri yang membuktikan diri di mata dunia, eyang kita BJ Habibie.



Negara yang begini kaya menjadi sumber utama kita untuk bersyukur pada sang Pencipta. Tak hanya lengah dan manja dengan keadaan yang serba ada. Sebagai generasi muda, suka tidak suka, mau tidak mau, masa depan negeri ini ada di tangan kita. Tak perlu muluk-muluk dengan seribu program atau jutaan perencanaan yang belum tentu satupun dapat diwujudkan. Kita dapat menghargai semua kekayaan alam ini dari banyak hal-hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, hemat energi (listrik, air, deterjen, dan sejenisnya), tidak bermalas-malasan, belajar dan bekerja, bermanfaat bagi lingkaran terdekat kita, diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Pengalaman menemukan tanaman ini semakin mengingatkanku akan kebesaran Tuhan dan nikmatnya yang luar biasa. Di alam bebas seperti hutan saja yang tidak pernah ada manusia bercocok tanam disana, kita dapat menemukan tanaman yang bisa menjadi sumber makanan. Bagaimana mungkin kita masih meragukan anugerah dan kuasa-Nya.

                 

29 Desember 2015

                 Udara subuh masih berhembus di luar. Langit masih berwarna gelap. Tiba-tiba pintu kos temanku, sebut saja Bunga, tempatku menginap malam ini diketok seorang wanita, tetangga sebelah, buru-buru ia berteriak, “Bunga, ada Bapak yang cari Syasa”. Bersyukur punya telinga yang tetap tersadar walau terlelap sekalipun. Refleks Bunga dan aku terbangun. Rasa kantuk masih berkeliaran di kantung mata dan kepala. Salahku sih, siapa suruh tadi malam masih berkutat dengan film di laptop dan godaan-godaan di layar hp, sampai-sampai tidurnya tengah malam. Langsung saja kami pasang jilbab sarung secepatnya. Bunga yang super pengertian menemani si Bapak ngobrol di depan kos karena beliau tidak mau ditawarkan duduk di dalam. Wajar saja, masuk kos para wanita yang terkaget bangun, pastinya isi kos masih berantakan, hihi. Akupun lari sana sini, masuk kamar mandi, masukkan baju yg kususun sembarang tadi malam ke dalam tas secepatnya. Laptop dan casnya, cas hp dan modem, beserta segala tetek bengek yang lain, kususun sebaik mungkin agar muat di tas punggungku yang tidak terlalu besar.
                Kepergiaanku ini juga tanpa persiapan barang dan perlengkapan yang matang. Dua hari yang lalu aku baru balik dari Betun-Malaka dengan Kakak teman guru tempatku menumpang sejak pertama menginjakkan kaki di Sainoni, desa tempatku mengabdi sebagai guru SM-3T (Sarjana Mengabdi di daerah Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) di perbatasan Timor Tengah Utara-Indonesia dengan Oekusi-Timor Leste. Kami pulang kemalaman, jadilah menumpang di kos Bunga. Walaupun yang punya kos sedang tidak di tempat, mereka sedang pergi liburan ke Kupang, kami tetap bisa menumpang karena kunci kamar dititip di kamarnya ketua kami disini. Guru SM-3T dari Universitas Negeri Medan berjumlah 38 orang yang ditempatkan disini, di seluruh kabupaten Timor Tengah Utara. Masing-masing dari kami mengisi liburan sekolah dengan gaya dan rejekinya masing-masing. Ada yang berkesempatan untuk libur barengan, tak sedikit juga berlibur dengan keluarga baru disini, penduduk asli yang kebanyakan merupakan suku Dawan.
                Kakak guru yang merasa tidak enakan karena si tuan kos tidak ditempat langsung permisi pulang kembali ke kampungnya, Sainoni. Akupun tinggal sendiri dengan alasan menunggu tuan kosnya pulang, aku juga sudah kangen Bunga dan teman sekamar kosnya, guru SM-3T juga, sebut saja Mawar. Malamnya, mereka pulang dari Kupang. Tadinya aku mau pulang dulu ke Sainoni sore kemarin supaya bisa mengambil baju dan perlengkapan lain yang aku butuhkan. Tapi setelah berteleponan dengan bapak Kepala Sekolah yang menawarkan liburan ala keluarga ini, aku memutuskan untuk tinggal saja di kos Bunga karena si bapak mengatakan kami harus berangkat subuh, supaya Bapak bisa langsung pulang setelah mengantarku ke Kupang.
                Dengan mata yang masih berkunang-kunang dan kepala yang berat, akupun masih mengusahakan kesadaran untuk menanggapi obrolan-obrolan dengan Bapak. Perjalanan dari Kefamenanu-TTU ke Kupang ditempuh dengan menggunakan bis besar, dengan muatan kurang lebih 20 orang, aku tak sempat menghitung jumlah kursinya dengan mata yang masih setengah terbuka, haha. Yang paling lucunya ku gantung baju tidur yang kucuci tadi malam di kos Bunga di besi yang terdapat dalam bus, berhubung tuh baju masih lembab, dan hanya itu baju tidur yang kubawa dari rumah di Sainoni. Aku benar-benar luar biasa sepertinya dalam hal cuek terhadap pandangan orang-orang. Di tas punggung yang kecil ini aku hanya memuat satu buah rok full color, jilbab orange, dan baju kaos orange pinjaman dari Mawar, satu buah baju kaos hijau dan jilbab biru milikku, pakaian dalam, dan seperangkat baju yang kupakai saat berangkat. Hanya itu! Tak lebih! Benar-benar instan aku ini! Haha.
                Berangkat akhirnya sekitar jam 6 pagi tadi dan sampai di terminal Oebobo-Kupang sekitar jam 11.30 WITA. Waktu tempuh mirip-mirip dengan perjalanan dari kampungku Tanjungbalai-Asahan ke Medan. Alhamdulillah perjalanan ini kulewati dengan perjuangan melawan rasa pusing dan mabuk pakai jurus Al fatiha serta doa lainnya, dibantu fresh care. Syukurnya aku berhasil. Sempat beberapa jam juga kurasakan tidur di atas bus. Sesampainya di terminal Bapak mengajakku untuk makan siang di rumah makan Lamongan dalam terminal. Berhubung lapar, kupaksakan diri menelan nasi dan ikan walau rasa makannya hambar. Mau bilang apa lagi, pagi tadi tak sebutirpun nasi masuk ke lambungku. Mungkin itu juga yang membuatku sakit perut sekarang, haha.
                Setelah makan, kami masih harus naik ojek ke rumah sodara si Bapak. Kami pun sampai disini dengan selamat. Alhamdulillah orang-orang di rumah ini menyambut dengan cukup hangat. Aku dan Bapak dihidangkan sprite, ada fanta juga, kue-kue natal, seperti saat kami lebaran, dan sentuhan senyum serta obrolan-obrolan ringan. Aku sudah berkenalan dengan Mama (si adik sepupu Bapak) yang punya rumah, putrinya yang nomor tiga baru masuk kuliah di FKM, si bungsu yang kelas 5 SD dengan wajah tampannya, dan anak Mama nomor lima yang memiliki nama sama persis dengan Bapak Kepala sekolahku ini. Setelah duduk sekitar 1 jam-an, Bapak permisi pulang kembali ke Kefamenanu-TTU.
                Setelah bapak pulang, mama menyarankanku untuk istirahat. Akupun ke kamar dan mengambil waktu untuk meluruskan badan. Rasanya lelah sekali. Aku tidur untuk beberapa jam. Terbangun sekitar jam 4 WITA saat hp berdering, sebuah panggilan dari seberang pulau, Ibuku menelpon dan kami pun ngobrol sebagai salah satu rutinitas harianku sejak pertama menginjakkan kaki di bumi NTT. Ibu menelponku setiap hari seperti mengonsumsi obat saja. Untungnya aku dan Ibu seperti berteman. Kami mengobrol tanpa beban. Tak perlu pura-pura saat bosan. Aku juga tak suka berkeluh kesah. Apapun akan kuceritakan dari sisi anak yang baik-baik saja, dengan kalimat tersirat ‘everything is really okay Mam’ walau sebenarnya tak selalu. Tapi itulah aku. Menurutku, mengeluh dan menceritakan keresahan hati hanya akan menambah kesakitan dan menghawatirkan orang tua. Lebih baik aku katakan saja berbagai hal yang menyenangkan pada mereka, selain untuk menenangkan mereka, itu juga menjadi doa buatku yang jauh dari keluarga. Insyaa Allah.
Sore menjelang malam tadi Bapak, suami si Mama, pulang. Semua keluarga telah berkumpul. Akupun sudah mengenal seluruh anggota keluarga rumah ini, Bapak dan Mama dengan 6 anak, termasuk tante (disini panggilnya tanta) dan om (sepupu si Mama) disamping rumah dan kedua putra mereka. Dari tadi ini aku masih di rumah saja, belum ada membawa kaki kemana-mana di kota ini. Tadinya si Mama menawarkan malam ini ke luar untuk jalan-jalan. Tapi sepertinya melihat jam di laptopku yang menunjukkan pukul 9.25 WIB yang artinya ini 10.25 WITA disini, maka pastinya sudah tidak mungkin lagi kami akan keluar.
Selesai mandi tadi Mama masih pergi latihan koor dan Bapak masih ada urusan jemput surat untuk berangkat ke Jakarta besok subuh. Sebagai tamu dan seorang anak yang orang tuanya juga bekerja, lucu sekali jika aku tak mengerti. Diterima dengan hangat, makan bersama, mengobrol dan tertawa, alhamdulillah hari ini aku sudah merasakan berada di keluargaku yang jauh disana. Walau tidak sama persis dengan rumah yang sebenarnya, setidaknya isi rumah ini menyamai anggota keluargaku di kampung halaman. Orang tua yang lengkap dengan tiga orang putri dan tiga orang putra. Benar-benar jumlah yang sama.

Ibu, Ayah, dan adik-adikku di rumah, selamat liburan. Salam untuk rumah kita yang sederhana. Aku merindukan kalian. Walau sebenarnya ketika bersama kita lebih sering berantem dengan urusan dan kepentingan kita masing-masing, tetap saja kita keluarga. Bagaimanapun keluarga, kehangatan dan saling memaafkan akan terus mengalir bak hubungan darah yang mengikat kita. Home sweet home. Peluk rindu dari anak sulung kalian di Timor Indonesia.

Alhamdulillah. Semoga setiap hari kita lebih baik dari kemarin. Amin.
Selamat istirahat semua. Good night and sleep tight.