Jumat, 05 Desember 2014

di 2014, 6 desemberku...



Ada banyak hal yang tak bisa diduga dalam dunia kerja, seperti ceritaku hari ini. Ini hari Sabtu dan seharusnya aku tidak berada disini, di kantorku, perusahaan X, tepat pukul 8 pagi dengan arahan atasan di hari sebelumnya bahwa hari ini kami harus masuk untuk mengejar target penjualan cabang. Kami yang aku maksud adalah para karyawan yang bekerja di bagian pemasaran. Dan disitulah aku sekarang, jam menunjukkan pukul 08.09 WIB, aku masih satu-satunya pegawai pemasaran yang hadir, ditemani beberapa orang tukang yang sedang membongkar bagian teller untuk direnovasi. Maklum saja, aku adalah pegawai baru, baru masuk bulan ke-4 bekerja di perusahaan ini. Jadi, tentu saja aku masih belum mengerti jam kerja hari Sabtu itu sebenarnya mulai dan selesai pada pukul berapa. Ah sudahlah, yang jelas aku sudah hadir disini dan mengisi kebosananku dengan membuat tulisan ini. Aku ingin berbagi isi pikiranku padamu, orang yang sedang membaca tulisanku.
Pagi ini, aku sempat menangis sebentar. Aku kecewa dengan adikku yang menentang ibuku. Setelah sarapan, terjadi insiden kecil, kaki ibuku terkena ujung setrikaan, dan beliau menegur adikku untuk lebih berhati-hati menarik tasnya, berhubung saat itu setrikaan berada dekat dengan tas sekolahnya. Maklum saja, rumah kami bukanlah istana yang memiliki ruang-ruang khusus sehingga segala kegiatan kadang kala bercampur aduk, seperti menyetrika di lantai tanpa meja khusus setrikaan. Kami hanya memiliki rumah sederhana, dan itupun rumah dinas yang diperoleh karena ibuku seorang guru PNS. Tapi adikku ini tidak terima ditegur ibuku hingga dia menentang dan tidak mau mengantar ibuku ke sekolah dengan sepeda motorku, lalu setelahnya aku dan dia berangkat bersama karena sekolahnya dan kantorku berdekatan.
 Kegiatan rutin kami pagi ini seharusnya berjalan lancar, namun karena aku begitu jengkel dengannya kutawarkan saja pada Ibu agar aku yang mengantar dan biarkan dia naik becak ke sekolah. Yang terjadi malah diluar dugaanku, ibu memberinya uang untuk naik becak dan beliau juga tidak ingin aku antarkan, akhirnya masing-masing dari mereka pergi sendirir. “Biarkan saja uang ini habis” ucap ibuku singkat lalu pergi. Aku tahu uang yang dimaksud itu adalah uang pecahan 2 ribuan dari dompet kecil itu. Uang itu adalah tabungan murid ibuku, miris sekali rasanya bukan. Seorang guru, pegawai negeri, namun masih harus memakai uang tabungan murid untuk kebutuhan sehari-hari.
Jam telah menunjukkan pukul 08.53,  dan tak satupun pegawai kantor selain aku yang hadir. Dan akhirnya mereka datang, 1 orang pegawai dan atasan kami, pada pukul 9.30 WIB. Semuanya ternyata akibat handpone ku yang tidak bisa nyala dari tadi malam, ternyata paginya si bos sudah bbm ke aku, dan mereka telah sepakat hadir di kantor jam 9-an. Aku bekerja dulu ya, mungkin kamu juga bisa melanjutkan aktifitasmu. Setelah nyantai nanti aku akan menulis lagi untukmu, yang mau meluangkan waktu membaca tulisanku. Salam senyum yang hangat dariku. Semoga hari kita menyenangkan, sampai jumpa :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar