Perjalananku dari
Kefamenanu ke Kupang memberikanku pengetahuan baru tentang satu flora di tempat
ini. Saat di perjalanan, ban bus kami pecah di sekitar jalan Timor Tengah
Selatan. Menunggu sang konjak memperbaiki ban, akupun turun untuk sekedar melepas
udara pengap di dalam bus dan meluruskan pinggang yang sudah duduk sekitar dua
jam. Saat melihat berbagai tanaman dan semak belukar yang tumbuh meliar di
pinggir jalan pemberhentian tersebut, aku memperhatikan sebuah tanaman yang
tumbuh menjalari sebuah batang pohon sampai membentuk mirip payung.
Tanaman itu memiliki buah, buahnya ada yang berwarna hijau, kuning, dan jingga. Buah itu diselubungi seperti akar atau daun-daun kecil, mirip buah yang memiliki kelambu. Penumpang yang bersamaku, yang merupakan penduduk setempat memberitahuku bahwa tanaman tersebut bernama ‘Buah Sengsara’. Nama yang unik. Dari si Bapak aku juga tahu kalau tanaman itu bisa dimakan. Si Bapak menunjukkanku cara memakannya, akupun ikut merasakan buah kecil berwarna jingga tersebut.
Rasanya mirip seperti markisa, hanya saja buah ini lebih manis. Mungkin mereka memang berasal dari jenis yang sama. Begitulah pemikiranku. Kucicipi dua buah lagi, rasanya memang manis, nikmat sekali. Di negeri Timor ini aku menemukan banyak flora dan fauna yang belum pernah kutemui. Buah ‘Sengsara’ ini salah satunya.
Daerah tempatku berpijak sementara sekarang hanyalah sebagian kecil dari hamparan tanah air nan subur. Indonesia dengan segala kekayaan di dalamnya, tanah, air, udara, keanekaragaman hayati, serta sumber daya manusianya yang sebenarnya berpotensi melejit tinggi seperti salah satu pemuda negeri yang membuktikan diri di mata dunia, eyang kita BJ Habibie.
Negara yang begini kaya menjadi sumber utama kita untuk bersyukur pada sang Pencipta. Tak hanya lengah dan manja dengan keadaan yang serba ada. Sebagai generasi muda, suka tidak suka, mau tidak mau, masa depan negeri ini ada di tangan kita. Tak perlu muluk-muluk dengan seribu program atau jutaan perencanaan yang belum tentu satupun dapat diwujudkan. Kita dapat menghargai semua kekayaan alam ini dari banyak hal-hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, hemat energi (listrik, air, deterjen, dan sejenisnya), tidak bermalas-malasan, belajar dan bekerja, bermanfaat bagi lingkaran terdekat kita, diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Pengalaman menemukan tanaman ini semakin mengingatkanku akan kebesaran
Tuhan dan nikmatnya yang luar biasa. Di alam bebas seperti hutan saja yang
tidak pernah ada manusia bercocok tanam disana, kita dapat menemukan tanaman yang bisa menjadi sumber makanan. Bagaimana
mungkin kita masih meragukan anugerah dan kuasa-Nya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar