Udara subuh
masih berhembus di luar. Langit masih berwarna gelap. Tiba-tiba pintu kos
temanku, sebut saja Bunga, tempatku menginap malam ini diketok seorang wanita, tetangga sebelah,
buru-buru ia berteriak, “Bunga, ada Bapak yang cari Syasa”. Bersyukur punya telinga
yang tetap tersadar walau terlelap sekalipun. Refleks Bunga dan aku terbangun.
Rasa kantuk masih berkeliaran di kantung mata dan kepala. Salahku sih, siapa
suruh tadi malam masih berkutat dengan film di laptop dan godaan-godaan di
layar hp, sampai-sampai tidurnya tengah malam. Langsung saja kami pasang jilbab
sarung secepatnya. Bunga yang super pengertian menemani si Bapak ngobrol di
depan kos karena beliau tidak mau ditawarkan duduk di dalam. Wajar saja, masuk
kos para wanita yang terkaget bangun, pastinya isi kos masih berantakan, hihi.
Akupun lari sana sini, masuk kamar mandi, masukkan baju yg kususun sembarang
tadi malam ke dalam tas secepatnya. Laptop dan casnya, cas hp dan modem,
beserta segala tetek bengek yang lain, kususun sebaik mungkin agar muat di tas
punggungku yang tidak terlalu besar.
Kepergiaanku
ini juga tanpa persiapan barang dan perlengkapan yang matang. Dua hari yang
lalu aku baru balik dari Betun-Malaka dengan Kakak teman guru tempatku
menumpang sejak pertama menginjakkan kaki di Sainoni, desa tempatku mengabdi
sebagai guru SM-3T (Sarjana Mengabdi di daerah Terdepan, Tertinggal, dan
Terluar) di perbatasan Timor Tengah Utara-Indonesia dengan Oekusi-Timor Leste.
Kami pulang kemalaman, jadilah menumpang di kos Bunga. Walaupun yang punya kos
sedang tidak di tempat, mereka sedang pergi liburan ke Kupang, kami tetap bisa
menumpang karena kunci kamar dititip di kamarnya ketua kami disini.
Guru SM-3T dari Universitas Negeri Medan berjumlah 38 orang yang ditempatkan disini,
di seluruh kabupaten Timor Tengah Utara. Masing-masing dari kami mengisi
liburan sekolah dengan gaya dan rejekinya masing-masing. Ada yang berkesempatan
untuk libur barengan, tak sedikit juga berlibur dengan keluarga baru disini,
penduduk asli yang kebanyakan merupakan suku Dawan.
Kakak guru yang merasa tidak enakan karena si tuan kos tidak ditempat langsung
permisi pulang kembali ke kampungnya, Sainoni. Akupun tinggal sendiri dengan
alasan menunggu tuan kosnya pulang, aku juga sudah kangen Bunga dan teman sekamar kosnya, guru
SM-3T juga, sebut saja Mawar. Malamnya, mereka pulang dari Kupang.
Tadinya aku mau pulang dulu ke Sainoni sore kemarin supaya bisa mengambil baju
dan perlengkapan lain yang aku butuhkan. Tapi setelah berteleponan dengan bapak
Kepala Sekolah yang menawarkan liburan ala keluarga ini, aku memutuskan untuk
tinggal saja di kos Bunga karena si bapak mengatakan kami harus berangkat
subuh, supaya Bapak bisa langsung pulang setelah mengantarku ke Kupang.
Dengan
mata yang masih berkunang-kunang dan kepala yang berat, akupun masih
mengusahakan kesadaran untuk menanggapi obrolan-obrolan dengan Bapak.
Perjalanan dari Kefamenanu-TTU ke Kupang ditempuh dengan menggunakan bis besar,
dengan muatan kurang lebih 20 orang, aku tak sempat menghitung jumlah kursinya
dengan mata yang masih setengah terbuka, haha. Yang paling lucunya ku gantung
baju tidur yang kucuci tadi malam di kos Bunga di besi yang terdapat dalam bus,
berhubung tuh baju masih lembab, dan hanya itu baju tidur yang kubawa dari
rumah di Sainoni. Aku benar-benar luar biasa sepertinya dalam hal cuek terhadap
pandangan orang-orang. Di tas punggung yang kecil ini aku hanya memuat satu
buah rok full color, jilbab orange, dan baju kaos orange pinjaman dari Mawar,
satu buah baju kaos hijau dan jilbab biru milikku, pakaian dalam, dan
seperangkat baju yang kupakai saat berangkat. Hanya itu! Tak lebih! Benar-benar
instan aku ini! Haha.
Berangkat
akhirnya sekitar jam 6 pagi tadi dan sampai di terminal Oebobo-Kupang sekitar
jam 11.30 WITA. Waktu tempuh mirip-mirip dengan perjalanan dari kampungku
Tanjungbalai-Asahan ke Medan. Alhamdulillah perjalanan ini kulewati dengan
perjuangan melawan rasa pusing dan mabuk pakai jurus Al fatiha serta doa
lainnya, dibantu fresh care. Syukurnya aku berhasil. Sempat beberapa jam juga
kurasakan tidur di atas bus. Sesampainya di terminal Bapak mengajakku untuk
makan siang di rumah makan Lamongan dalam terminal. Berhubung lapar, kupaksakan
diri menelan nasi dan ikan walau rasa makannya hambar. Mau bilang apa lagi,
pagi tadi tak sebutirpun nasi masuk ke lambungku. Mungkin itu juga yang membuatku
sakit perut sekarang, haha.
Setelah
makan, kami masih harus naik ojek ke rumah sodara si Bapak. Kami pun sampai
disini dengan selamat. Alhamdulillah orang-orang di rumah ini menyambut dengan
cukup hangat. Aku dan Bapak dihidangkan sprite, ada fanta juga, kue-kue natal,
seperti saat kami lebaran, dan sentuhan senyum serta obrolan-obrolan ringan.
Aku sudah berkenalan dengan Mama (si adik sepupu Bapak) yang punya rumah,
putrinya yang nomor tiga baru masuk kuliah di FKM, si bungsu yang kelas 5 SD
dengan wajah tampannya, dan anak Mama nomor lima yang memiliki nama sama persis
dengan Bapak Kepala sekolahku ini. Setelah duduk sekitar 1 jam-an, Bapak
permisi pulang kembali ke Kefamenanu-TTU.
Setelah
bapak pulang, mama menyarankanku untuk istirahat. Akupun ke kamar dan mengambil
waktu untuk meluruskan badan. Rasanya lelah sekali. Aku tidur untuk beberapa
jam. Terbangun sekitar jam 4 WITA saat hp berdering, sebuah panggilan dari
seberang pulau, Ibuku menelpon dan kami pun ngobrol sebagai salah satu
rutinitas harianku sejak pertama menginjakkan kaki di bumi NTT. Ibu menelponku
setiap hari seperti mengonsumsi obat saja. Untungnya aku dan Ibu seperti
berteman. Kami mengobrol tanpa beban. Tak perlu pura-pura saat bosan. Aku juga
tak suka berkeluh kesah. Apapun akan kuceritakan dari sisi anak yang baik-baik
saja, dengan kalimat tersirat ‘everything is really okay Mam’ walau sebenarnya
tak selalu. Tapi itulah aku. Menurutku, mengeluh dan menceritakan keresahan
hati hanya akan menambah kesakitan dan menghawatirkan orang tua. Lebih baik aku
katakan saja berbagai hal yang menyenangkan pada mereka, selain untuk
menenangkan mereka, itu juga menjadi doa buatku yang jauh dari keluarga. Insyaa
Allah.
Sore menjelang
malam tadi Bapak, suami si Mama, pulang. Semua keluarga telah berkumpul. Akupun
sudah mengenal seluruh anggota keluarga rumah ini, Bapak dan Mama dengan 6 anak,
termasuk tante (disini panggilnya tanta) dan om (sepupu si Mama) disamping
rumah dan kedua putra mereka. Dari tadi ini aku masih di rumah saja, belum ada
membawa kaki kemana-mana di kota ini. Tadinya si Mama menawarkan malam ini ke
luar untuk jalan-jalan. Tapi sepertinya melihat jam di laptopku yang
menunjukkan pukul 9.25 WIB yang artinya ini 10.25 WITA disini, maka pastinya
sudah tidak mungkin lagi kami akan keluar.
Selesai mandi tadi
Mama masih pergi latihan koor dan Bapak masih ada urusan jemput surat untuk
berangkat ke Jakarta besok subuh. Sebagai tamu dan seorang anak yang orang
tuanya juga bekerja, lucu sekali jika aku tak mengerti. Diterima dengan hangat,
makan bersama, mengobrol dan tertawa, alhamdulillah hari ini aku sudah
merasakan berada di keluargaku yang jauh disana. Walau tidak sama persis dengan
rumah yang sebenarnya, setidaknya isi rumah ini menyamai anggota keluargaku di
kampung halaman. Orang tua yang lengkap dengan tiga orang putri dan tiga orang
putra. Benar-benar jumlah yang sama.
Ibu, Ayah, dan
adik-adikku di rumah, selamat liburan. Salam untuk rumah kita yang sederhana.
Aku merindukan kalian. Walau sebenarnya ketika bersama kita lebih sering
berantem dengan urusan dan kepentingan kita masing-masing, tetap saja kita
keluarga. Bagaimanapun keluarga, kehangatan dan saling memaafkan akan terus
mengalir bak hubungan darah yang mengikat kita. Home sweet home. Peluk rindu
dari anak sulung kalian di Timor Indonesia.
Alhamdulillah. Semoga setiap hari kita lebih baik dari kemarin. Amin.
Selamat istirahat semua. Good night and sleep tight.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar